Resensi Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Marlina Si Pembunuh Empat Babak

Judul : Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sutradara : Mouly Surya

Produser : Rama Adi, Fauzan Zidni, Isabelle Glachant, Giovanni Rahmadeva

Penulis : Rama Adi, Garin Nugroho, Mouly Surya

Tahun Rilis : 2017

Durasi : 1 jam 33 menit

Pemeran : Marsha Timothy sebagai Marlina, Dea Panendra sebagai Novi, Egy Fedly sebagai Markus, Yoga Pratama sebagai Franz, Haydar Salishz sebagai Niko

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan sebuah film yang disutradarai oleh Mouly Surya. Film ini menorehkan banyak prestasi, baik di kancah nasional maupun internasional. Saat artikel ini ditulis, setidaknya film ini telah berhasil memenangkan sebanyak 25 dari 34 nominasi yang ada. Banyaknya prestasi yang telah diraih, membuktikan bahwa kualitas film ini tidak perlu diragukan lagi.

Film yang memborong penghargaan dalam ajang Festival Film Indonesia 2018 ini mengisahkan https://www.proautogroupllc.com/ tentang Marlina, seorang janda di pedalaman Sumba, Nusa Tenggara Timur, untuk mencari keadilan atas kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh sekelompok pria terhadap dirinya.

Pada awal film, Mouly Surya memperkenalkan sekelompok penagih utang yang mendatangi Marlina untuk mengambil hewan ternak yang ada di tempat tinggalnya. Nahasnya, mereka tidak hanya berniat untuk mengambil hewan ternak saja, tetapi secara terang-terangan juga berniat untuk melakukan tindak kekerasan seksual kepada Marlina.

Markus, pemimpin kelompok penagih utang tersebut, menyuruh Marlina membuat makanan untuk mereka. Disaat memasak, Marlina memasukkan racun pada masakannya yang mengakibatkan empat orang anggota kelompok tersebut tewas. Ketika Marlina masuk kamar untuk mengantar makanan, Marlina mengalami tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh Markus. Disaat situasi semakin genting, Marlina mengambil parang dan memenggal kepala Markus hingga ia pun tewas seketika.

Keesokan harinya, Marlina memulai perjalanan untuk mencari keadilan atas tindakan kekerasan seksual yang terjadi padanya. Sambil membawa kepala Markus, Marlina menunggu sebuah kendaraan untuk mengantarnya ke kantor polisi, di situlah Marlina bertemu dengan temannya, Novi yang tengah hamil usia sepuluh bulan. Marlina dan Novi pun akhirnya melakukan perjalanan bersama dengan menumpang truk. Semua penumpang di dalam truk tersebut seketika turun karena ketakutan melihat Marlina yang membawa kepala Markus. Hanya Novi dan ibu-ibu yang bersama dengan seorang pria lah yang mau menerima Marlina.

Perjalanan menuju kantor polisi tidaklah mulus, Frans anak buah Markus yang belum berhasil terbunuh berusaha memburu Marlina untuk mendapatkan kembali kepala Markus. Di suatu momen, Novi dan Marlina harus berpisah karena truk yang ditumpanginya berhasil terkejar oleh Frans. Alhasil Marlina pun harus melanjutkan perjalanannya seorang diri dengan menunggangi kuda.

Sesampainya di kantor polisi, kehadiran Marlina seakan-akan dianggap tidak ada. Marlina harus terlebih dahulu menunggu para polisi bermain tenis meja sebelum melakukan pelaporan. Saat sedang proses pelaporan, sang polisi justru memojokkan Marlina dengan memberi tanggapan, “Kalau dia tua dan kurus, kenapa kau biarkan dia perkosa kau?”. Hal ini diperparah dengan prosedur yang rumit serta kurangnya fasilitas untuk memproses kasus ini. Bisa dikatakan bahwa usaha Marlina datang ke kepolisian adalah perbuatan yang sia-sia.

Pada akhirnya, Marlina harus kembali ke rumah karena Novi ditawan oleh Frans. Marlina kemudian menyerahkan kepala Markus ke Frans. Frans lalu memasangkan kepala tersebut ke badan Markus. Setelah itu Frans menyuruh Novi untuk memasak dan meminta Marlina untuk menemani dirinya. Saat sedang memasak, Novi mendengar Marlina menjerit karena dilecehkan oleh Frans. Novi yang sudah muak, akhirnya mengambil parang dan memenggal kepala Frans. Tidak lama setelah itu, Novi melahirkan anaknya yang sudah dikandung selama sepuluh bulan itu.

Bobroknya Instansi Kepolisian dan Kebiasaan Menyalahkan Korban

Adegan dimana Marlina menunggu polisi bermain tenis meja, benar-benar menggambarkan bobroknya instansi kepolisian di Indonesia. Oknum (tapi banyak) polisi acapkali berbuat seenaknya kepada masyarakat. Sedangkan kinerja polisi sendiri tidak memuaskan. Mirisnya, bukannya berusaha memperbaiki kinerja, instansi ini justru memakai jasa buzzer agar kinerjanya terlihat baik.

Kemudian, adegan ketika polisi memojokkan Marlina dengan berkata, “Kalau dia tua dan kurus, kenapa kau biarkan dia perkosa kau?”, sangat merefleksikan apa yang terjadi dalam kehidupan nyata. Tidak hanya polisi, masyarakat biasa pun kerap menyalahkan korban kekerasan seksual dengan perkataan menyakitkan seperti “Kenapa tidak melawan?”, “Kau keenakan, ya?”, “Makannya pakai baju yang benar!”, dan perkataan-perkataan yang bernada menyalahkan lainnya.

Kebiasaan-kebiasaan seperti ini sudah mengakar di masyarakat. Ketimbang menyalahkan pelaku, masyarakat justru lebih semangat untuk mencari kesalahan-kesalahan korban. Hal yang lebih parah ialah keluarga yang seharusnya berpihak pada korban, malah ikut-ikutan menyalahkan. Sampai akhirnya memaksa korban menikah dengan pelaku karena menganggap hal itu sebagai sebuah aib. Padahal itu bukanlah sebuah solusi, justru hal itu berpotensi menjadi “neraka” bagi korban.

Fasilitas Tidak Memadai

Film ini banyak mengkritik permasalahan di Indonesia, salah satunya adalah kritik terhadap fasilitas yang tidak memadai. Bisa kita lihat dari angkutan umum yang ala kadarnya, hingga tidak adanya alat untuk visum yang mengakibatkan terkendalanya pemrosesan laporan Marlina.

Sudah puluhan tahun Indonesia merdeka, tetapi pemerataan fasilitas belum dapat tercapai. Sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, seperti wilayah Indonesia yang terlalu luas dan perbedaan geografis yang mengakibatkan sulit dibangunnya fasilitas dan infrastruktur lainnya.

Namun, tetap saja pemerintah berkewajiban untuk memenuhi hak warga negara dengan membuat fasilitas yang memadai, sesuai dengan UUD 1945 pasal 28 C ayat (1) yang berbunyi, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.

Hal ini penting dilakukan agar tidak ada yang bernasib sama seperti Marlina, dimana sebuah kasus yang sebenarnya sangat penting, tetapi harus mengalami kendala karena kurangnya fasilitas yang memadai.

Kekurangan

Film ini saya rasa perlu ditonton berulang kali agar penonton bisa benar-benar memahami alurnya. Saya rasa durasi film ini terlalu singkat, hal tersebut mengakibatkan adanya beberapa adegan atau latar yang menurut saya tidak nyambung atau membingungkan. Cerita dalam film ini juga sebenarnya bisa lebih dikembangkan, tetapi lagi-lagi karena durasinya terlalu singkat membuat ada sesuatu yang kurang dalam film ini.

Terlepas dari kekurangan yang ada, saya cukup puas menonton film ini. Kritik sosial benar-benar tersampaikan, visual indah dikombinasikan dengan iringan musik yang begitu enak didengar, serta akting dari para aktor dan aktris yang sangat memukau membuat film ini sangat layak untuk ditonton dan pantas meraih berbagai penghargaan.

Baca Juga : https://www.valicarrental.com/sinopsis-the-negotiator-1998-film-drama-thriller/

Back To Top
error: Content is protected !!