Sinopsis & Review The Silence of the Lambs, Teka-Teki Psikopat

The Silence of the Lambs

Menangkap penjahat bukanlah tugas yang mudah. Apalagi kalau penjahatnya Slot777 melakukan aksi yang sulit dilacak. Membaca pola kejahatan menjadi salah satu cara untuk mencari siapa pelakunya.

Tapi, cara itu pun seringkali sulit mendapatkan hasil dalam waktu yang cepat. Kalau sudah begitu, pihak berwenang akan membuka pintu yang lebar untuk siapa pun yang bisa membantu.

Di The Silence of the Lambs, ada seorang pembunuh berantai yang sulit ditangkap oleh Polisi. FBI mencoba mendapatkan petunjuk dari seorang psikiater yang telah berubah menjadi psikopat. Bahkan orang itu melakukan tindak pidana kanibalisme. Seperti apa lengkapnya? Simak sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Sinopsis
Tahun Rilis 1991
Genre Crime, Drama, Horror, Psychological, Thriller
Sutradara Jonathan Demme
Pemeran ∙ Jodie Foster ∙ Anthony Hopkins ∙ Scott Glenn ∙ Ted Levine ∙ Anthony Heald

Pada tahun 1990, Clarice Starling sedang mengikuti latihan untuk menjadi agen FBI di Quantico, Virginia. Starling dipanggil oleh Jack Crawford, kepala Behavioral Science Unit.

Crawford tahu Starling punya keahlian di bidang psikologi dan kriminologi. Oleh karena itu, dia ingin menerjunkan Starling untuk mewawancarai Hannibal Lecter. Lecter adalah psikiater yang dihukum karena kasus kanibalisme.

Bantuan dari Lecter diharapkan bisa melacak pembunuh berantai bernama Buffalo Bill. Starling mendatangi Baltimore State Hospital. Dr. Frederick Chillton, kepala rumah sakit, memberi beberapa peraturan pada Starling.

Jangan terlalu dekat dengan kaca dan hanya boleh memberikan kertas pada Lecter. Chillton kemudian mengantar Starling ke ruangan bawah tanah. Sel Lecter ada di paling ujung.

Starling mencoba membuka percakapan dengan Lecter. Lecter bersikap tenang tapi nggak menerima kehadiran Starling begitu saja. Dia mencoba menebak parfum yang digunakan Starling. Dia juga menilai bahwa sepatu Starling murahan. Begitu juga dengan setelan yang dipakai Starling. Starling bersikukuh menjalankan tugasnya.

Lecter kehilangan kesabaran. Starling memilih pergi. Penghuni sel di samping Lecter, Miggs, menggoda Starling. Lecter memanggil Starling kembali. Lecter mengatakan bahwa tindakan Miggs sangatlah buruk. Dia kemudian memberi petunjuk agar Starling mencari seorang pasiennya dulu bernama Miss Mofet.

Starling mencari identitas Mofet. Dia menemukan nama Mofet dalam buku telepon. Nama itu merujuk pada sebuah alamat gudang bernama Yourself Storage. Starling mendatangi gudang atas nama Mofet. Dia kemudian menelusuri gudang.

Di dalam gudang, terdapat sebuah mobil. Starling membuka kain yang menutupi toples. Di dalam toples itu ternyata ada kepala manusia yang direndam di dalam air.

Starling menemui Lecter untuk kedua kalinya. Lecter menyatakan bahwa orang yang ditemukan Starling punya keterkaitan dengan Buffalo Bill.

Dia menyatakan akan membantu lebih lanjut asal dipindahkan dari selnya. Lecter ingin sebuah sel yang membuat dia bisa melihat sinar matahari dan pohon. Seorang wanita korban Buffalo Bill ditemukan. Di tenggorokan wanita itu ada sebuah ngengat.

Buffalo Bill menculik Catherine Martin, anak Senator Martin. Crawford meminta Starling membuat sebuah pernyataan palsu. Pernyataan itu adalah Lecter akan dipindahkan atas izin dari Martin apabila bisa mencegah Buffalo Bill membunuh Catherine.

Lecter meminta syarat khusus pada Starling. Kalau Starling menceritakan masa lalunya, maka Lecter akan memberi petunjuk tentang Buffalo Bill.

Starling mulai bercerita bahwa dia ditinggal ibunya ketika masih kecil. Pada umur 10 tahun, ayahnya pun meninggal. Penyebabnya adalah sang ayah ditembak oleh dua orang perampok. Chilton mengintervensi. Dia menghentikan wawancara Starling dan Lecter. Lecter memberi tahu nama Buffalo Bill adalah Louis Friend.

Chilton berhasil merayu Lecter untuk berkoordinasi. Lecter pun dipindahkan dari selnya. Starling menyadari bahwa nama yang diberikan Lecter merupakan anagram. Sementara itu, Lecter berhasil melarikan diri dari sel serta membunuh dua orang polisi. Bisakah Starling menemukan keberadaan Buffalo Bill yang sebenarnya?

Perpaduan Apik Psychological Thriller, Horror dan Misteri

The Silence of the Lambs diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya Thomas Harris. Sebagaimana versi buku, versi film pun mengangkat tiga karakter utama yaitu Starling, Lecter dan Buffalo Bill.

Apresiasi lebih layak diberikan pada Ted Tally sebagai penulis skenario dan Jonathan Demme sebagai sutradara. Berkat mereka, karakter-karakter itu bisa ditransformasikan ke dalam bentuk visual.

Film ini memadukan psychological thriller, horror dan misteri. Lecter merupakan sosok yang bisa membuat kita nggak nyaman. Di satu sisi, dia bisa membuat kita terpukau karena kepandaiannya. Nuansa horror muncul dari masa lalu para karakter. Sedangkan unsur misteri direpresentasikan pada upaya menemukan sosok Buffalo Bill.

Bagi yang ingin menikmati sajian gore, mungkin akan kecewa. Film ini nggak secara murahan memperlihatkan kejamnya sosok psikopat.

Sebaliknya, kita dibawa masuk memahami jalan pikiran mereka. Kita akan disuguhi cerita mengapa Buffalo Bill menguliti korban-korbannya. Beberapa adegan menampilkan visual yang cukup mengganggu, seperti adegan kulit terkelupas.

Pengaruh Masa Lalu pada Manusia

Ada satu hal yang menyatukan tiga karakter utama dalam The Silence of the Lambs. Hal itu adalah bagaimana karakter mereka dipengaruhi oleh masa lalu. Hal itulah yang membuat Lecter merasa punya kedekatan dengan Starling.

Dalam sebuah adegan Lecter menyatakan bahwa nggak ada manusia yang terlahir jahat. Manusia berubah karena ada kejadian besar, begitu juga dengan orang jahat.

Starling memiliki trauma. Ketika menjadi yatim piatu, dia pindah ke rumah kerabat yang punya kandang domba. Di sana, dia sering mendengar tangisan.

Suara tangis itu ternyata berasal dari domba yang hendak disembelih. Starling pergi dari tempat itu dengan membawa domba. Starling menganggap tangisan domba itu seperti tangisan para korban. Hal itulah yang memicunya menjadi agen FBI.

Lecter dan Buffalo Bill punya masa lalu yang nggak kalah kelam. Keduanya pernah mengalami kekerasan seksual ketika usia mereka masih kecil. Lecter menjadi kanibal sedangkan Buffalo Bill menguliti wanita yang menjadi korbannya. Dia ingin mengubah jenis kelaminnya menjadi wanita karena kejadian di masa lalu.

Penampilan Apik Jodie Foster dan Anthony Hopkins

Pendalaman ketiga karakter utama film ini sangat solid. Keunggulan itu pun didukung oleh penampilan apik Jodie Foster dan Anthony Hopkins. Foster berhasil menghidupkan Starling. Dia cerdas tapi di satu sisi menunjukkan kerapuhan.

Hopkins terlihat benar-benar menjiwai karakter Lecter. Nada bicara, ekspresi, tatapan mata sampai gestur tubuh Hopkins benar-benar meyakinkan.

Secara sinematografi, film ini dibuka dengan sangat brilian. Dalam sebuah adegan, Starling berjalan ke ruangan bawah tanah ditemani Chilton. Warna lampu berubah menjadi merah.

Suara mengerikan berbunyi di sekitar sel yang ditempati Lecter. Ketika berjalan ke sana, Starling digoda oleh tahanan lain. Kemunculan pertama Lecter sangatlah ikonik. Dia berdiri tegak dengan tatapan tajam.

Durasi selama 118 menit nggak akan terasa panjang ketika menonton The Silence of the Lambs. Cerita seru, atmosfer mengerikan sampai teka-teki yang bikin penasaran akan membuat kita terduduk manis di depan layar.

Nggak salah kalau film ini menjadi satu-satunya film horror yang menyapu bersih Oscar. Berani nonton? Kalau sudah nonton, tulis pengalamanmu di kolom komentar ya, teman-teman!

Baca Juga : https://www.valicarrental.com/sinopsis-film-merantau-aksi-iko-uwais-lawan-penjahat-perdagangan-manusia/

Back To Top
error: Content is protected !!